Sejak pertama kali diperkenalkan oleh club Combined Old Boys Rugby Association (COBRA) di tahun 1967, Rugby 10 telah menjadi semakin digemari dan popular bukan hanya di Asia tetapi juga di seluruh penjuru dunia.

Sejak beberapa tahun belakangan, kompetisi Brisbane Global 10s telah menjadi kompetisi Rugby 10s yang banyak diikuti oleh tim-tim besar sebelum mereka memulai kompetisi Super Rugby. Selain itu, popularitas Rugby 10 juga mencapai tingkat popularitas melalui turnamen seperti Cape Town Tens di Afrika Selatan dan kompetisi regular di Asia seperti di Hong Kong, Bangkok serta tentunya biang kompetisi awal yaitu COBRA Tens.

Kendati pada awalnya Rugby 10 dirancang agar dapat memberikan pemain-pemain Asia kesempatan untuk bersaing dengan para pemain dari negara-negara tradisional Rugby yang memiliki perawakan lebih besar, keahlian yang diperlukan untuk bermain tetap mendekati yang diperlukan untuk bermain Rugby XVs dimana scrum dan lineout tetap menjadi bagian inti dari setiap pertandingan. Hal ini menyebabkan, bahwa kendati terdapat lebih banyak ruang untuk bergerak di lapangan namun tidak sedemikian besar sehingga samasekali tidak memberikan kesempatan pemain forwards yang berbadan lebih besar dan cenderung lebih lamban untuk bermain.

Walaupun lebih sering dianggap sebagai variasi yang lebih santai, seluruh kompetisi Rugby Tens tetaplah kompetitif dan Indonesia memiliki tiga turnamen yang layak dibahas.

Yang pertama adalah Jakarta Tens yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh Jakarta Komodo Rugby Football Club di bulan Mei. Keunikan dari turnamen ini adalah bahwa ia diselenggarakan hanya selama satu hari saja dan kini telah menjadi turnamen favorit bagi banyak clubs dari Singapura, Malaysia, Hong Kong serta klub-klub lokal di Indonesia.

Beberapa klub yang datang ke turnamen ini termasuk diantaranya dari Austalia dan Selandia Baru dan dikarenakan formatnya yang hanya selama satu hari saja, memungkinkan banyak klub untuk mengorganisir sebuah Rugby tour yang singkat, padat dan menyenangkan namun tetap bertanding melawan klub-klub terbaik yang ada di kawasan Asia dan Australasia.

Selama turnamen berlangsung, turut dipertandingkan kompetisi Rugby Putri 7s, Veteran 10s dan juga Junior Rugby bagi tim-tim lokal dan internasional.

Turnamen ke-2 yang semakin populer berlangsung setiap Agustus di provinsi paling timur Indonesia yaitu di Papua.

Di salah satu pusat Rugby di Indonesia ini, kompetisi tahunan Papua Tens telah berlangsung selama dua tahun belakangan dan diikuti oleh klub-klub lokal seperti Kotekas, Menangas dan Hollandia. Saat bersamaan juga dilangsungkan kompetisi Rugby Putri 7s dan turnamen yang diselenggarakan oleh PRUI Provinsi Papua ini merupakan ajang seleksi bagi para pemain yang akan mengikuti Kejuaraan Nasional Rugby 7s.

Acara ini sangat antusias ditonton oleh para penggemar Rugby di Papua dimana sebelumnya juga diadakan berbagai pelatihan bagi para pelatih, wasit dan petugas medis lapangan serta kegiatan Get Into Rugby (GIR) dan turnamen kecil bagi Junior Rugby. Turnamen ini juga merupakan kesempatan bagi para tim untuk menganalisa strategi dan taktiknya menjelang Bali Tens beberapa bulan kemudian.

Mungkin turnamen Tens paling bergengsi di Indonesia adalah Bali Rugby Tens yang diselenggarakan setiap bulan Oktober oleh Bali Rugby Club. Dengan tim-tim kelas dunia seperti Napier Old Boys dari Selandia Baru, Kalamunda Bulls dan Bayswater dari Australia serta tim tentara Kerajaan Inggris Flying Kukris yang turut berpartisipasi secara regular, turnamen ini memberikan kesempatan bagi klub lokal untuk bertanding melawan klub-klub terbaik kelas dunia. Sementara itu, tim-tim Putri yang telah ikutserta berdatangan dari Singapura, Malaysia dan juga tim penuh canda tawa namun tetap kuat yaitu Bunnies dari bagian utara Australia.

Turnamen ini terus berkembang dari tahun ke tahun dan beberapa pemain/ penonton yang telah hadir di antaranya Matt Giteau, Nick “Honey Badger” Cummins dan Byron Kelleher. Satu hal yang pasti ialah bahwa setiap tahunnya mutu pertandingan selalu meningkat disertai tingkat kompetisi yang semakin intensif pada turnamen ini.

Bukan hanya bertanding, para penyelenggara turnamen ini juga ikut menyelenggarakan pelatihan Rugby dan kegiatan amal terutama di panti-panti asuhan dalam semangat Rugby berbagi kepada masyarakat. Namun demikian, selalu terdapat suasana meriah dan pesta di akhir turnamen ini

Rugby tens may still have the reputation of being the social game of Rugby and that sits just fine in Indonesia because with the fun and frolic comes the opportunity for serious improvement and continued learning from playing more experienced clubs. That, surely, is great for the Game all round.

Mungkin saja Rugby tens masih dianggap sebagai jenis pertandingan yang lebih bersifat sosial dibandingkan dengan XVs atau 7s namun itu tidak selalu merupakan hal yang buruk karena seiring dengan kegembiraan yang hadir di setiap kompetisi Rugby 10s, juga selalu ada kesempatan untuk memperbaiki standar bermain dan belajar dari tim-tim yang lebih baik. Itu tentu merupakan hal baik bagi Rugby secara keseluruhan.